www.SAP.or.id

 

2x200W Class AB Linier Subwoofer Amp

 

SA1

 

 

SA2

 

 

Proyek ini saya kerjakan atas permintaan seorang rekan yang membutuhkan amplifier untuk mendrive passive subwoofer miliknya.

 

Di tahap awal dari proyek ini sempat ada diskusi antara kami berdua mengenai apakah amplifier ini akan dirancang sebagai amplifier switching Class D ataukah amplifier linier
Class AB.

Ahirnya saya memutuskan untuk merekomendasikan amplifier linier Class AB pada rekan saya berdasarkan atas pengalaman pribadi saya.

Ketika saya masih bekerja di perusahaan importir audio (2004-2010) saya sering melakukan pengesetan system home theater yang tentunya menggunakan subwoofer aktif.  Pada masa itu, (apalagi saat ini) boleh dibilang mendekati 100% subwoofer menggunakan  amplifier Class D sebagai penguat yang terintegrasi didalamnya. Ada dua merek subwoofer aktif yang pada saat itu sering saya install yaitu yang bermerek Meridian buatan Inggris  dan Earthquake buatan Amerika, dan pernah juga saya menginstall subwoofer merek ELAC buatan Jerman.

Dari sudut pandang efisiensi tempat dan biaya pembuatan, pemilihan amplifier Class D sebagai amplifier untuk subwoofer aktif adalah merupakan alasan yang sangat rasional, karena dalam kedua hal tersebut amplifier  Class D memang mengungguli amplifier linier Class AB. Saya juga menemukan bahwa daya dari amplifier Class D yang terintegrasi pada subwoofer aktif umumnya berkisar antara 200-400W.

 

Sampai pada suatu saat secara kebetulan saya menemukan subwoofer aktif yang menggunakan Ampifier Linier Class AB, yaitu merek System Audio buatan Denmark, subwoofer ini seingat saya hanya menggunakan amplifier Class AB dengan daya 100W,  daya ini jauh lebih rendah dari kebanyakan subwoofer aktif yang menggunakan Amplfier Class D.

Dalam hal level suara yang bisa dicapai, jelas subwoofer ini kalah dibandingkan dengan aktif subwoofer yang menggunakan amplifier Class D, akan tetapi dalam hal kualitas bass yang dihasilkan, menurut saya subwoofer dengan amplifier class AB  ini memiliki karakter  bass yang lebih bagus dibandingkan dengan bass yang dikeluarkan oleh subwoofer aktif dengan amplifier Class D. Bass yang dihasilkan oleh subwoofer dengan amplifier linier ini lebih tight dan juga memiliki damping yang bagus.

Dan saya juga menduga bahwa peralatan lain yang terpasang pada stok kontak yang sama dengan subwoofer tidak mengalami pencemaran frekuensi switching  dari subwoofer melalui jaringan listrik.

 

 

Kedua fakta yang saya uraian di atas ahirnya membawa saya pada dua buah pilihan yaitu, memilih Amplifier Class D yang murah dan Efisien, atau memilih Amplifier Linier Class AB dengan daya lebih kecil dan biaya pembuatan yang lebih mahal.

Karena aplikasi yang diperlukan oleh kawan saya bukan untuk home theater, melainkan hanya untuk system stereo, maka ahirnya saya memutuskan untuk merekomendasi penggunaan amplifier linier Class AB dalam proyek ini.

Dengan kata yang lebih sederhana bisa juga saya katakan bahwa  saya memilih kualitas daripada kuantitas.