Crossover Aktif
Dengan Discreet Op Amp
Latar Belakang
Perkenalan pertama saya dengan crossover aktif dimana saya mendapat
kesan yang sangat mendalam mengenai crossover aktif adalah ketika saya
mendengar suara yang keluar dari speaker aktif Meridian DSP8000, yaitu
sekitar tahun 2007. Saat itu salah satu customer saya baru saja membeli
speaker tersebut dengar harga sekitar GBP35000. DSP8000 adalah speaker
aktif 3 1/2 way, dengan total 5 buah amplifier dalam tiap unit speaker.
DSP8000 tersusun dari 2 modul yaitu modul bass yang berisi 6 buah driver
dan modul mid high yang berisi mid dan tweeter. Untuk informasi lengkap
mengenai DSP8000 anda bisa ke web Meridian di link berikut http://www.meridian.co.uk Apa yang
saya dengar dari DSP8000 adalah sebuah speaker dengan suara yang sangat
natural, dimensional, separasi yang baik antara masing masing driver dan
tentunya bass yang sangat terkontrol. Boleh dikata saya jatuh cinta pada
pendengaran pertama kepada system aktif, dan ahirnya pengalaman dengar ini
menginspirasi saya untuk membangun sebuah system yang berbasis speaker aktif.
Namun karena kesibukan kerja saya pada saat itu barulah setelah 4 tahun berlalu
saya baru bisa mulai merealisasikan impian untuk membangun system speaker
aktif.
Ada 3 bagian utama yang harus saya buat dalam merealisasikan impian saya
Untuk memiliki system speaker aktif ini yaitu :
1. Crossover Aktif
2. Power Amplifier
3. Pemilihan driver speaker dan pembuatan cabinet
Sebagai langkah awal dari perjalanan saya menuju impian ini yang akan
saya lakukan adalah membuat crossover aktif
Apa yang dimaksud dengan Crossover
Telinga manusia mampu mendengar frekuensi dalam rentangan 20Hz
sampai dengan 20 kHz, namun pada kenyataanya tidak ada driver/speaker
yang bisa menyalurkan dengan baik seluruh frekuensi suara dalam rentangan
tersebut.
Ada driver yang hanya bagus dalam mereproduksi suara mulai dari frekuensi
20Hz sampai frekuensi sekitar 500Hz, driver ini disebut woofer, dalam
sebuah speaker woofer dapat diidentifikasi dengan ukurannya yang paling
besar.
Ada driver yang hanya bagus dalam mereproduksi suara mulai dari frekuensi
3kHz sampai frekuensi 20kHz atau bahkan lebih, driver ini disebut tweeter,
dalam sebuah speaker, tweeter dapat diidentifikasi dengan ukurannya yang
paling kecil. Ada driver yang hanya bagus dalam mereproduksi suara
mulai dari frekuensi sekitar 300Hz sampai frekuensi sekitar 3kHz, driver
ini disebut midrage, dalam sebuah speaker midrange dapat diidentifikasi
dengan ukurannya yang relative sedang dibandingkan dengan woofer dan tweeter.
Ada driver yang hanya bagus dalam mereproduksi suara mulai dari frekuensi
sekitar 20Hz sampai frekuensi sekitar 3kHz, driver ini disebut mid-bass,
dalam sebuah speaker midbass dapat diidentifikasi dengan ukurannya yang
tidak sebesar woofer namun lebih besar dibandingkan mid-range.
Agar supaya sebuah system speaker bisa menampilkan dengan utuh seluruh
frekuensi mulai dari 20Hz sampai dengan 20kHz, maka driver driver tersebut
Harus ditampilkan secara bersamaan dengan berbagai kombinasi sesuai dengan
karakter dan kebutuhan yang diinginkan. Dalam aplikasinya semua driver
dalam sebuah speaker tidak bisa langsung disambung secara langsung dengan
power amplifier, karena hal ini akan mengakibatkan driver mereproduksi
rentangan frekuensi yang bukan berada dalam rentangan frekuensi dimana
driver tersebut bisa bekerja dengan baik, selain juga akan ada frekuensi
yang direproduksi secara bersama sama oleh driver tersebut. Agar masing
masing driver hanya mereproduksi frekuensi yang sesuai dengan kemampuannya
maka diperlukankan sebuah alat yang bisa mendistribusikan frekuensi suara
ke masing2 driver, dan alat inilah yang disebut “Crossover”. Dalam
aplikasi audio ada dua jenis crossover yaitu crossover aktif dan pasif.
Disebut crossover pasif karena hanya tersusun atas komponen elektronika
pasif yaitu resistor, capacitor dan inductor, sebaliknya disebut crossover
aktif, karena menggunakan komponen elektronik aktif yaitu transistor atau
tube sebagai jantungnya selain juga dibantu oleh komponen pasif seperti
resistor dan capacitor.
Mengapa harus system aktif
Setiap kali saya mendengar suara dari speaker pasif, walau yang berkualitas
sangat bagus sekalipun, saya selalu mendengar sepertinya ada sesuatu yang
menghambat transfer energi dari amplifier menuju driver. Pada speaker
pasif seringkali saya mendengar ketika musik menampilkan suara yang tidak
terlalu kompleks dengan nada bass yang relative sedikit, maka suara mid
dan high sangat rapih dan bagus, separasi suara, staging, dan depth terdengar
sangatlah bagus. Namun ketika system menampilkan suara bass yang agak dominan,
selalu saja ada keadaan dimana suara mid dan high dari speaker terganggu
oleh kemunculan suara bass yang agak dominan, sehingga clarity, separasi
dan staging menjadi terganggu secara tiba tiba. Pada system aktif kelemahan
seperti yang saya sebutkan di atas tidaklah terjadi, walaupun system sedang
memainkan musik yang rumit, clarity, separasi, staging dan dept tetaplah
terjaga dengan baik.
Menurut pendapat saya setidaknya ada 4 hal yang menyebabkan crossover
pasif menampilkan kelemahan seperti yang saya sebutkan di atas.
1.Arus balik dari woofer
Ketika arus listrik yang mewakili sinyal masuk ke dalam coil dari
woofer, maka kemudian akan terjadi interaksi antara arus listrik tersebut
dengan magnet yang kemudianberakibat bergeraknya membran speaker. Gerakan
membrane speaker ini kemudian akan mengakibatkan coil pada speaker berinteraksi
dengan magnet speaker yang mengakibatkan mengalirnya arus balik dari dari
coil speaker menuju midrange, tweeter dan amplifier dan arus balik ini
mengganggu kerja midrange, tweeter, maupun amplifier. Proses terjadinya
arus balik ini adalah mirip dengan prinsip kerja dari microphone dan situasi
ini tentunya akan menggangu kerja dari tweeter dan midrange sehingga kualitas
suara juga akan terganggu. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada
tweeter dan midrange, namun karena ukuran coil dan membrane dari tweeter
dan midrange tidak sebesar woofer maka gangguan yang diberikan oleh tweeter
dan midrange tidak separah dibanding gangguan yang dari woofer, karena besarnya
arus balik pada tweeter dan midarange jauh lebih kecil. Ada sebuah cara
yang sangat mudah untuk memahami terjadinya arus balik dari woofer, lihatlah
Gambar 1 berikut ini
Gambar 1
Arus balik dari woofer
Hubungkan sebuah woofer dengan multimeter pada posisi voltmeter, set
posisi ukur multimeter pada skala yang terkecil, kemudian tekan dan lepas
membran speaker berulang ulang sambil memperhatikan gerakan jarum pada
voltmeter, tekanan dan lepas ini berutujuan untuk mensimulasikan gerakan
woofer setelah menerima arus listrik dari amplifier. Akan terlihat bahwa
jarum pada voltmeter bergerak maju mundur sebagai pertanda adanya tegangan
pada dari woofer, dan tegangan inilah yang ahirnya akan menghasilkan arus
balik dari woofer. Jika arus balik ini masuk ke tweeter dan midrange, maka
kualitas suara yang diproduksi oleh midrange dan tweeter juga akan terganggu.
2. Rugi rugi komponen pasif L, C dan R pada Crossover pasif
Komponen pasif yang terdiri inductor, kapasitor dan resistor adalah
komponen dasar yang membangun sebuah crossover pasif, di dunia ini tidak
ada komponen yang spesifikasinya sempurna dan tidak memiliki rugi rugi,
sehingga dimanapun komponen seperti R L C ada di rangkaian audio, pasti
akan menimbulkan rugi rugi, akan tetapi pada crossover pasif rugi yang
ditimbulkan oleh komponen pasif R L C adalah yang paling besar dibandingkan
dengan kerugian oleh komponen pasif ini pada pemakaian di tempat lain dalam
rangkaian elektronika audio, ada dua factor yang menyebabkan besarnya rugi
rugi yaitu :
a) Dalam sebuah system audio arus pembawa sinyal musik terbesar adalah
yang berasal dari amplifier dan menuju ke speaker melewati crossover.
Sebagai illustrasi ; arus listrik sebesar 1 A yg keluar dari
amplifier menuju speaker 8 ohm akan menghasilkan daya sebesar 8W, sedangkan
arus
sebesar 1mili ampere yang keluar dari preamp menuju ke input
dari amplifier dengan impedansi 1kohm akan menghasilkan tegangan sebesar 1
volt,
jika amplifiernya memiliki gain 10x (20db) maka pada output
amplifier akan keluar tegangan sebesar 10V, tegangan sebesar 10V ini kalau
diberikan
pada beban 8 ohm maka akan menghasilkan daya sebesar
12.5W yang lebih besar daripada daya 8W yang diberikan oleh arus sebesar
1A mengalir
dari amplifier menuju beban speaker 8 ohm. Padahal 1
ampere adalah 1 mili ampere dikali seribu .
Makin besar arus melewati suatu penghantar ataupun komponen,
maka akan semakin besar pula kemungkinan rugi rugi yang akan terjadi karena
drop
tegangan pada penghantar ataupun pada komponen adalah berbanding
lurus dengan besarnya arus, hal ini bisa dijelaskan dengan hukum
Ohm sbb :
V = I x R
Dimana V = tegangan drop, I = arus listrik yg mengalir dan
R= resistansi
b) Keharusan menggunakan inductor dengan inti udara, dan capacitor non
polar pada ahirnya akan mengharuskan perancang crossover menggunakan
kapasitor ataupun inductor dengan ukuran fisik yang relative
besar. Semakin besar ukuran fisik dari inductor dan capacitor maupun resistor
akan
diikuti oleh rugi rugi komponen yang semakin besar pula.
Kapasitor dengan ukuran besar cenderung memiliki ESR dan ESL yang lebih
besar Inductor
dengan ukuran besar cenderung memiliki Q factor yang buruk
Resistor berdaya besar cenderung bersifat induktif.
3.Ketidaklinieran perbedaan fasa karena ketidakstabilan impedansi
speaker
Ketika seorang perancang speaker pasif menghitung nilai L dan C untuk
crossover pasif, maka nilai L dan C tersebut sesungguhnya hanya berlaku
untuk satu nilai impedansi tertentu saja yang konstan, namun dalam kenyataannya
tidak ada speaker yang impedansinya konstan dalam rentangan frekuensi
audio, sehingga delay ataupun pergesaran fase yang sebelumnya sudah
diperhitungkan dengan akurat, namun karena ketidak linieran impedansi
ini kemudian menjadi tidak akurat, dan keadaan ini bisa menggangu kalkulasi
lainnya sperti misalnya time alligment antara tweeter dan driver lainnya.
Pada crossover aktif hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena dalam perancangan
filter aktif yang menjadi beban adalah resistansi murni dan stabil.
4. Kompromi Akurasi Karena Ketersediaan Komponen
Dalam proses perancangan rangkaian elektronika yang menggunakan komponen
aktif maupun pasif, selalu akan ada keadaan dimana nilai komponen
yang didapat dari perhitungan tidak sesuai dengan nilai standar yang ada
di pasaran. Dalam proses perancangan crossover pasif perbedaan nilai
C antara perhitungan dengan nilai standar yang tersedia, umumnya
menjadi sebuah kendala dalam mendapatkan perhitungan yang akurat. Kalau
ingin memaksakan mendapatkan nilai C yang akurat maka harus memparalel
berbagai C dengan nilai berbeda dan membuat bentuk crossovernya menjadi
lebih besar, situasi ini sering membuat perancang melakukan kompromi
terhadap akurasi perhitungan. Dalam perancangan crossover aktif, kesulitan
seperti di atas jauh lebih mudah diatasi, karena dalam perancangan crossover
aktif hanya menggunakan C dengan ukuran yang kecil dan resistor,
cukup dengan memilih nilai C standar, kemudian tinggal menghitung
nilai R yang diinginkan, kalaupun nilai R yang didapat dari perhitungan
tidak ada dalam standar adjustment bisa dilakukan dengan cara menserikan
atau memparalalel beberapa R, dan cara ini jauh lebih mudah dan murah daripada
harus memparalel C berukuran besar pada crossover pasif.
Crossover aktif sekalipun bukanlah 100% sempurna kalau dibandingkan
dengan crossover pasif karena crossover aktif sekalipun masih memiliki rugi
rugi yang ditimbulkan komponen seperti OP Amp/Transistor, resistor dan
kapasitor. Namun rugi rugi pada crossover aktif jauh lebih kecil dikarenakan
hal sbb :
1. Sinyal pada crossver aktif baik input ataupun output berada pada
level preamp atau umumnya disebut line level yang mengalirkan arus
dalam jumlah
sangat kecil dibandingkan arus dari power amp ke speaker
via crossover pasif (Illustrasi pada point a di atas)
2. Tidak perlu menggunakan inductor, karena crossover aktif umumnya
hanya tersusun atas capacitor kecil, resistor dan Op Amp
3. Kalaupun perlu menggunakan kapasitor, maka kapasitor yang diperlukan
umumnya yang berurukuran kecil, sehingga rugi rugi nya pun jauh
lebih kecil.
4. Akurasi perhitungan bisa diupayakan maksimal dengan cara memodifikasi
nilai R, dimana cara ini jauh lebih mudah dan murah daripada mengupayakan
akurasi maksimal dengan mendapatkan nilai C yang akurat
pada perancangan crossover pasif.
Ilustrasi rugi rugi pada kapasitor dan inductor
Untuk membayangkan seberapa besar rugi rugi yang bisa ditimbulkan
oleh kapasitor dan inductor yang umumnya digunakan dalam crossover pasif
saya menyiapkan sebuah kapasitor dan inductor dengan ukuran yang umumnya
digunakan dalam sebuah crossover pasif.
Pada gambar 2 berikut ini adalah sebuah kapasitor non polar dengan
ukuran 3,3uF/450V, kapasitor dengan nilai ini umumnya digunakan dalam
crossover pasif, dan kapasitor ini berasal dari merek yang juga banyak
digunakan oleh pabrikan speaker dalam membuat crossover pasif, namun untuk
alas an etika lapisan terluar dari kapasitor ini sudah saya lepas karena
tercantum merek dari kapasitor ini.
Gambar 2,
Contoh Kapasitor Crossover Pasif
Setelah kapasitor siap maka saya mulai mengelupas lapisan pertama dari
kapasitor sample tsb dan bisa anda lihat pada gambar 3 berikut ini.
Gambar 3
Kapasitor sample yg mulai dikelupas
Kemudian proses pengelupasan kapasitor sampel saya lakukan sampai semua
elektroda kapasitor habis terlepas, dan hasilnya bisa dilihat pada gambar
4 berikut :
Gambar 4,
Elektroda kapasitor sampel, Panjang total +/- 20 meter
Yang membuat saya terkejut adalah bahwa panjang total dari elektroda
kapasitor sample ini adalah sekitar 20 meter !!! Bisa anda bayangkan berapa
banyak rugi rugi yang terjadi ketika sinyal musik dari amplifier bergerak
melewati seluruh elektroda dari kapasitor sample ini. Jika anda seorang
DIY yang pernah merakit speaker atau amplifier, mungkin ada sudah pernah menemukan
bahwa memasang kabel berlebih sekitar 10 cm saja sudah bisa berpengaruh buruk
pada kualitas suara, apalagi kalau kelebihannya sampai 20 meter. Langkah
serupa juga saya lakukan pada inductor sample untuk membayangkan rugi rugi
yang mungkin diberikan oleh inductor pada kapasitor aktif. Gambar dari inductor
sample bisa anda lihat pada gambar 5 berikut ini :
Gambar 5
Induktor Sampel
Induktor sample ini menggunakan inti udara dengan diameter kawat 1.5mm/AWG16
dengan nilai sekitar 1mH, umumnya inductor senilai ini digunakan untuk membuat
low pass filter pada crossover pasif. Kemudian inductor sample ini saya
uraikan kawat nya sehingga habis semua dan hasilnya bisa dilihat di gambar
6 berikut ini.
Gambar 6
Uraian kawat inductor sampel
Setelah semua kawat terurai saya mengukur total panjang dari kawat tersebut
adalah sekitar 15 meter. Bagi anda yang pernah mencoba gonta ganti kabel
speaker, mungkin anda pernah menemukan bahwa perbedaan panjang sebesar 1
meter pada kabel speaker sudah bisa memberikan perbedaan kualitas suara,
apalagi kalau sampai 15 meter. Bisa dibayangkan berapa banya peningkatan
damping rasio dari system kalau sekirannya system yang menggunakan crossover
pasif diubah menjadi crossover aktif, karena sinyal musik dari amplifier
sudah tidak perlu lagi melewati kawat yang sedemikian panjang dan menimbulkan
banyak rugi.
Discreet Op Amp
Sebagai jantung dari crossover aktif yang saya bangun saya menggunakan
discreete Op Amp yang merupakan rancangan asli saya sendiri dan tidak menggunakan
Op Amp jadi ataupun skema jiplakan perancang lain. Skema dari discreet Op
Amp yang akan saya gunakan dalam proyek ini bisa dilihat pada gambar 7 berikut
ini.
Gambar 7 Gambar 7,
Skema Discreet Op Amp
Seperti yang terlihat pada skema di atas, Discreet Op Amp (DOA) tersusun
atas 2 gain stage saja yaitu differential input yang dibentuk dari JFET
2SK30 dan VAS single ended yang tersusun dari transistor komplementer 2SA970
dan 2SC2240, semua JFET dan Bipolar tersebut adalah berasal dari type Low
Noise. Sebagai CCS dari dua stage yang ada dalam DOA ini saya menggunakan
Cascode CCS. CCS untuk differential dibentuk oleh 2SK246 yang juga di cascode
dengan 2SK246, sedangkan untuk VAS, CCS yang digunakan adalah LM317 yang
di cascode dengan SC2240. Dengan hanya tersusun atas dua gain stage maka
pewarnaan yang diakibatkan oleh komponen menjadi lebih kecil dan rangkaian
bersuara lebih natural. Dengan VAS single ended maka output dari DOA dipastikan
bekerja dalam kelas A, berbeda dengan IC OP Amp yang bekerja dalam kelas
B ataupun AB serta tersusun atas 3 gain stage.
Konstruksi Crossover Aktif Orde 2
Gambar 8,
Konstruksi Crossover Aktif
Konstruksi dari crossover aktif bisa dilihat pada gambar 8 di
atas. Crossover ini adalah crossover aktif 2way dan tersusun atas tiga
buah bagian yaitu buffer yang juga berfungsi sebagai line stage pre amp
dan dilengkapi dengan volume control, LPF dan HPF. Untuk HPF dan LPF nya
masing2 menggunakan topology Unity Gain Sallen Key, topologi ini adalah
Non Inverting, dan gain nya 1 (0 dB). Umumnya crossover aktif mendapat
supply signal dari line stage preamp terpisah, namun karena saya ingin
meminimalkan jumlah penguat dalam system saya memfungsikan buffer juga
sebagai line stage preamp dengan menambahkan volume control di depan buffer
line stage tsb, dan rencana ke depan saya juga ingin menempatkan relay
selector di depan line stage, sehingga crossover ini juga bisa dihubungkan
dengan berbagai sumber. Line stage preamp ini saya rancang untuk memiliki
gain sebesar 2x (6db) Crossover aktif ini saya rancang dengan mengikuti
karakter Linkwitz-Riley active filter orde 2, atau yang umum disebut LR2.
Sebenarnya ada beberapa type aktif filter yang umumnya digunakan
dalam bidang elektronika audio seperti Butterworth, Bessel dan Chebysef.
Linkwitz-Riley saya pilih dengan pertimbangan sbb.
1. Linkwitz-Riley topologi adalah yang umum digunakan dalam bidang audio
professional, dan bisa dikatakan sebagai standarnya audio pro.
2. Cara perhitungan pada topologi Linkwitz-Riley relative mudah karena
nilai C dan R pada topologi ini adalah sama baik pada LPF dan HPF,
hanya posisinya saja yang berbeda
3. Linkwitz-Riley memiliki respon amplitude yang flat dibanding topologi
lainnya. Penjelasannya bisa dilihat pada gambar 9 berikut ini.
Gambar 9 Gambar 9
Perbandingan Respon magnitude Butterworth, Bessel dan Linkwitz-Riley
Dikutip dari www.rane.com
Pada gambar 9 di atas terlihat bahwa Linkwitz Riley memiliki respon
magnitude yang flat, sedangkan pada butterworth ada sedikit peak tepat
di frekuensi cutt off crossover nya. Cutt off frekuensi dari crossover
rancangan saya ini adalah 2500Hz, nilai ini saya pilih berdasarkan saran
dari pabrikan driver yang akan saya gunakan yaitu Visaton. Driver Unit
Driver yang rencananya akan saya gunakan ialah Visaton G20SC tweeter dan
Visaton W170SC untuk mid-bass, dan kedua driver ini saya beli dari rekan
saya Mr. Malion. Mid Bass W170SC menangani frekuensi di bawah 2500Hz.
Tweeter G20SC akan menangani frekuensi diatas 2500Hz sampai 20kHz, tweeter
ini saya pilih karena selain cocok dengan selera saya setelah saya melakukan
uji dengar dengan salah unit produk Mr. Malion yang sudah jadi, driver ini
juga memiliki respon frekuensi dan impedansi yang sangat flat, bisa dilihat
di gambar 10 berikut respon frekuensi dan impedansi dari Visaton G20SC tweeter.
Gambar 10
Respon frekuensi dan impedansi Visaton G20SC
Dikutip dari www.visaton.de
Pada uji dengar yang sudah pernah saya lakukan dengan speaker 2
way pasif yang menggunakan G20SC dan W170SC, saya menemukan bahwa G20SC
mampu menampilkan karakter yang cepat, dimensional, dan sangat natural,
tidak ada coloration sedikitpun. Walaupun system saya belum lengkap namun
saya punya keyakinan bahwa system 2way aktif saya akan bersuara luar biasa
karena pasifnya saja dimana sinyal masih melewati L dan C sudah bagus, apalagi
kalau sudah tidak melewati L dan C. Jika anda menginginkan tweeter dengan
karakter yang natural, gesit dan jujur G20SC bisa menjadi pilihan yang tepat.
Tapi sebaliknya jangan pilih tweeter ini jika telingga anda sudah terbiasa
ditipu oleh suara dari single driver, atau driver lain yang suaranya tebal
tapi tidak natural. Sedangkan grafik respon frekuensi dan impedansi dari
Visaton W170SC bisa dilihat pada gambar 11 berikut.
Gambar 11
Respon Frekuensi dan Impedansi WS170C
Gambar 12 Gambar 12,
Visaton G20SC, Tweeter
Gambar 13,
Visaton W170SC, Mid-Bass
Gambar PCB PCB Crossover aktif bisa dilihat pada gambar 13 berikut
ini. Unit ini memang belum dicoba untuk menerima sinyal musik sungguhan,
namun dari pengukuran dengan generator sinus dan osiloskop sudah menunjukkan
bahwa unit ini sudah bekerja dengan baik dan sesuai dengan spesfikasi yang
saya inginkan.
Gambar 14,
PCB Crossover Aktif