Apa benar 230V yang
terbaik ?
Mengapa pabrik cenderung memilih 230V untuk produknya
Mengapa beberapa pabrik
cenderung menghindari
tegangan 220V atau
240V
Apa yang sesungguhnya terbaik
bagi kita
Dalam tiga bulan terahir setidaknya saya
sudah ngobrol dengan tiga orang rekan yang berpendapat bahwa system
high end miliknya baru bersuara paling baik ketika mendapat supply
tegangan listrik 230V.
Dari ketiga pembicaraan tersebut saya berasumsi bahwa sepertinya
pendapat ini sudah mulai memasyarakat di kalangan orang high end.
Berdasarkan kedua pengalaman tersebut saya menjadi terdorong untuk membuat tulisan ini yang bertujuan untuk meluruskan pandangan tersebut.
Untuk bisa bekerja dengan optimal setiap peralatan audio membutuhkan tegangan kerja tertentu dan tegangan terbaik bagi sebuah system adalah yang sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya, ini bisa dilihat dari manual atau print yang ada di panel belakang alat tersebut, bisa jadi 120V, 220V, 230V atau 240V, dll, dan tidak harus 230V.
Berdasarkan pengalaman saya beberapa
tahun ini mengamati berbagai produk produk impor, memang ada
kecenderungan pabrik menset tegangan kerja dari produk tersebut pada
230V, walaupun barang tersebut sebenarnya untuk dijual di Indonesia yang
notabene tegangan PLN nya adalah 220V.
Mengapa pabrik cenderung memilih 230V untuk produknya
Secara umum di dunia ini ada dua type tegangan listrik berdasarkan besarnya yaitu tegangan daerah 100V yang
meliputi tegangan sbb : Tegangan 100V
( Jepang )
Tegangan 110V
( Taiwan )
Tegangan 120V
( USA, Canada)
Dan tegangan daerah 200V yang
meliputi
Tegangan 220V (Indonesia,
Korea, Hongkong, dll)
Tegangan 230V ( Jerman,
Perancis, dll)
Tegangan 240V ( UK, Australia,
dll)
Bagi produk yang diset untuk bekerja optimum pada
230V maka ada tiga kemungkinan yang
akan dihadapi alat tsb setelah sampai di konsumen yaitu
* Menemukan tegangan 220V
Jika alat
menghadapi kondisi
ini, secara
teknis masih bisa bekerja tapi kemungkinan tidak
optimal karena power supply internal dari
alat tsb kurang mendapat pasokan tegangan.
* Menemukan tegangan 230V
Dalam kondisi ini alat akan bekerja paling optimum, karena
pada tegangan
inilah alat memang dirancang.
* Menemukan tegangan 240V
Jika alat
menghadapi kondisi
ini, secara
teknis masih bisa bekerja tapi juga tidak optimal, karena
komponen dalam rangkaian mendapat tegangan lebih yang berakibat lebih
kepanasan dan
untuk jangka
panjang mungkin bisa memperpendek umur alat.
Dari
ketiga uraian di atas dapat pahami bahwa 230V bukan merupakan pilihan
yang terbaik namun juga bukan pilihan yang dapat memberikan kondisi terburuk.
Mengapa
beberapa pabrik cenderung menghindari
tegangan 220V atau
240V
Jika alat
di set pada
220V namun ahirnya
ketemu tegangan 240V,
maka kemungkinan alat menjadi mudah rusak, karena alat tersebut sudah mendapat supply
tegangan dengan melampaui 10% dari batas nominalnya. Kalau alat ini ketemu tegangan kerja 230V, umumnya masih OK,
karena mengalami kenaikan tegangan kerja yang hanya sekitar 5%
Jika alat
di set pada
240V namun ahirnya
ketemu tegangan 220V,
maka sangat mungkin alat tidak mau bekerja, karena mendapat supply tegangan
yang lebih rendah
10% dari tegangan
kerja optimalnya.
Kalau alat
ini ketemu tegangan kerja 230V umumnya juga masih OK karena hanya mengalami penurunan tegangan
kerja sekitar 5%.
Atas
dasar dua kondisi tersebut di atas maka tegangan kerja 230V seringkali
menjadi pilihan walau pada ahirnya belum tentu menjadi pilihan terbaik
ketika produk yang bersangkutan dipakai oleh konsumenya, kecuali kalau
barang tersebut memang ahirnya ketemu tegangan 230V.
Sebuah
Contoh Nyata
Ada sangat banyak aplikasi teknis yang bisa dipilih untuk menjelaskan tujuan dari tulisan ini, akan tetapi saya memilih contoh aplikasi trafo filament dari amplifier tabung sebagai studi kasus, karena mungkin relatif mudah untuk dimengerti.
Gambar 1, di atas
adalah skema yang dipersingkat dari sebuah power amplifier tabung menggunakan
tabung 6DJ8 yang dirancang untuk bekerja pada tegangan kerja 220V. Pada
tegangan 220V ini trafo daya akan menghasilkan tegangan filament tepat
sebesar 6.3V, dan tegangan ini adalah tegangan ideal yang dibutuhkan oleh
tabung untuk bekerja dengan optimal. Jika tegangan naik menjadi 230V apalagi
menjadi 240V, tabung tersebut akan menjadi overheat, umumnya dalam kondisi
overheat suara yang dikeluarkan oleh tabung tsb akan menjadi distorsi.
Dari gambar ini bisa disimpulkan bahwa jika anda hendak membeli
power amplifier tabung impor untuk dioperasikan di Indonesia, belilah
yang tegangan kerja memang 220V agar anda bisa mendapatkan kualitas
terbaik.
Gambar2 di atas
menampilkan skema yang dipersingkat dari sebuah amplifier tabung yang
dirancang untuk bekerja pada tegangan 230V.
Ketika mendapat supply 220V, tegangan filament akan turun sampai
6V, pada situasi ini emisi pada tabung akan bekurang, sebaliknya ketika
mendapat supply 240V, tegangan filament akan naik sampai 6.57 volt dan
emisi menjadi berlebih. Pada tegangan 220V maupun 230V jelas filament
bekerja pada tegangan yang tidal optimal karena pada tegangan kerja 220V
tabung akan kekurangan emisi dan sebaliknya pada tegangan 240V tabung akan
kelebihan emisi.
Pada gambar3 di atas, power amplifier tabung dirancang untuk
bekerja pada 240V, dan pada nilai ini, tegangan filament yang keluar
pada sekunder trafo akan tepat berada di 6.3V dan tabung tentunya akan
bekerja optimal. Akan tetapi ketika tegangan menjadi 230V atau pun 220V,
maka tegangan filament akan menjadi lebih rendah dari 6.3V, pada kondisi
ini tabung akan kekurangan emisi, dan tentunya kualitas suara yang akan
dihasilkan oleh power amplifier tabung tidak akan optimal pula.
Apa yang sesungguhnya terbaik
bagi kita
Yang terbaik bagi kita tentunya adalah
peralatan yang di set untuk bekerja pada tegangan sesuai dengan
tempat dimana kita tinggal. Bagi kita di Indonesia tentunya peralatan
yang di set untuk bekerja pada tegangan 220V adalah yang terbaik, karena
listrik PLN di Indonesia adalah 220V bukannya 230V.
Jika anda tinggal di Australia, yang terbaik bagi anda adalah peralatan
yang di set untuk bekerja pada tegangan 240V, jika anda tinggal di Amerika
yang terbaik bagi anda adalah peralatan yang di set untuk
bekerja pada tegangan 120V, jika anda tinggal
di Perancis atau Jerman yang terbaik bagi anda adalah peralatan yang di
set untuk bekerja pada tegangan 230V dan seterusnya.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat
bagi anda.